Rubrik Humanity


PERJUANGANKU TAK SIA-SIA!






Lahir 25 oktober 1961,  itulah hari lahir seorang penjaga Kampus fakultas kedokteran Universitas Airlangga, penjaga itu bernama Slamet Rumadi. Beliau adalah seorang satpam di Universitas Airlangga, pengabdian beliau untuk Airlangga tidak dilakukan dalam hitungan minggu atau bulan, melainkan dalam hitungan tahun, yaitu sejak tahun 1979 jika di hitung-hitung sampai saat ini beliau telah mengabdikan dirinya selama 33 tahun, bukanlah waktu yang singkat untuk mengabdikan diri pada sebuah pekerjaan. Pak slamet adalah orang asli surabaya kini umurnya telah menginjak 51 tahun. Awal mula bekerja di Airlangga beliau hanya menggunakan ijazah sekolah dasar dan sempat hanya di bayar 7.500 rupiah.  
Ketika awal pekerjaannya beliau sempat mengalami lika - liku dalam pekerjaan, dan sempat mengalami pengalaman yang mungkin membuat bulu kuduk kita berdiri, karena di awal pekerjaannya beliau sempat melihat beberapa sosok yang bukan manusia, ataupun kadang melihat sekelebat bayangan yang lewat. Tidak hanya diawal pekerjaannya bahkan hingga kini beliau sering melihat hal – hal seperti itu. Beliau bercerita bahwa beberapa minggu lalu, saat mengontrol situasi kampus beliau sempat melihat sesosok perempuan yang memakai  pakaian putih dan sedang duduk membaca buku di halaman parkir FK, ketika ditanya tak ada jawaban, lalu pak slamet berkeliling ketempat lainnya, dan tak lama kemudian kembali ke tempat itu perempuan tadi sudah tidak ada, dengan spontan pak slamet dan temannya lari secepat mungkin.
Beliau telah melihat dan mengalami perubahan Universitas Airlangga dari masa ke masa. Mulai dari perubahan gedung – gedung, jalan raya, hingga perubahan sosialisasi antar mahasiswa, beliau telah mengamati semuanya. Dahulu gedung Airlangga tidak sebanyak sekarang, namun halamannya sangat luas, tidak seperti sekarang yang sempit dengan banyaknya mobil-mobil berjajar, bahkan beliau berceita dahulu jalan raya yang ramai dan macet di depan FK dulunya sangat sepi bahkan jalan raya bisa di jadikan halaman mahasiswa, dimana mereka hilir mudik tanpa takut karena bnyaknya kendaraan. Pak slamet juga bercerita, dahulu mahasiswa sering sekali mengerjakan tugas di kampus hingga tengah malam, sehingga mereka juga sangat akrab dengan pekerja – pekerja yang ada di kampus, salah satunya dengan pak slamet sendiri, bahkan sampai saat ini ketika mereka sudah membuka praktek dan menjadi dokter mereka tetap bersikap hangat dan sering menyapa pak Slamet, namun kini karena sudah banyaknya teknologi seperti laptop dan internet, membuat banyak mahasiswa yang mengerjakannya di rumah saja tanpa da sosialisasi dengan teman, apalagi dengan para pekerja di sana, bahkan banyak yang cenderung acuh dan tak peduli, bahkan pak Slamet juga mengamati bahwa kini mahasiswa cenderung berkelompok dan tidak menghiraukan orang sekitarnya.
Pekerjaan untuk berjaga dan kontrol dilakukan bergantian, sehari dibagi 3 orang,sehingga masing - masing bekerja 8 jam. Pengaturan kontroling dan mengawasi situasi dibagi dengan teman – teman yang lain, di Fk sendiri jumlah satpam ada 17 orang yang sudah lama, maupun yang masih baru.
Menjadi seorang satpam mungkin sering diremehkan, atau bahkan di pandang sebelah mata, namun dengan profesi ini pak Slamet dapat mnyekolahkan anaknya hingga jenjang perkuliahan, dan ketiga anaknya berkuliah di Airlangga, anak pertama dan kedua sudah lulus, kini anaknya yang ketiga juga akan lulus dari jurusan S1 Keperawatan. Pak Slamet sempat mengatakan bahwa beliau mempunyai harapan dan cita - cita, yaitu semua yang beliau lakukan hanya untuk anaknya, dan beliau berkata bahwa meskipun pendidikanya tidak tinggi tetapi anak – anaknya harus bisa kuliah dan lebih sukses darinya.
Dengan begitu kita bisa belajar bahwa “walaupun kita hanya orang kecil, tetapi bertekat dan beranilah  bermimpi besar untuk merubah masa depan”.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 
blogger template by arcane palette